Menyaksikan Pesona Imlek dan Cap Go Meh Kota Singkawang

Menyaksikan Pesona Imlek dan Cap Go Meh Kota Singkawang – Setioko Berdasarkan literature dan kebudayaan Tionghoa, Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas (hanzi : 十五暝; pinyin : Shíwǔ míng) bulan pertama Imlek dan merupakan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi komunitas migran Tionghoa yang tinggal di luar China. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang bila diartikan secara harafiah bermakna “15 hari atau malam setelah Imlek”.

Bila dipenggal per kata, ‘Cap’ mempunyai arti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan ‘Meh’ berarti malam.  Sebenarnya Festival ini bukan hanya berlangsung di Indonesia melainkan juga di berbagai Negara lainnya seperti Malaysia serta Singapura.

Di negara Tiongkok, festival Cap Go Meh dikenal dengan nama Festival Yuanxiao (元宵节; Yuánxiāo jié) atau Festival Shangyuan. Perayaan ini awalnya dirayakan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai Yi. Dewa Thai Yi sendiri dianggap sebagai Dewa tertinggi di langit oleh Dinasti Han (206 SM – 221 M).

Berbicara mengenai Cap Go Meh di Indonesia rasanya kurang lengkap jika kita tidak berbicara mengenai sebuah kota yang bernama Singkawang.  Kota ini terletak di Provinsi Kalimantan Barat.  Dan kota ini sendiri bisa dibilang sangat Istimewa.

 

Menyaksikan Pesona Imlek dan Cap Go Meh Kota Singkawang

 

Mengapa kota Singkawang di sebut Istimewa ? karena berdasarkan sejarah. Sebab, Kota yang berjarak 145 km dari Kota Pontianak ini terkenal dengan berbagai ragam corak atau kultur yang terdapat di dalamnya. Seperti tempat Wisata, Kuliner, Seni & Budaya, Perpaduan Suku Bahasa Etnis yang ada seperti Tionghoa, Dayak , Melayu, dan berbagai macam lainnya.

Berdasarkan Wikipedia,  Pada awalnya Singkawang merupakan sebuah desa bagian dari wilayah kesultanan Sambas, Desa ini dahulunya terkenal sebagai tempat singgah para pedagang dan penambang emas dari Monterado.

Mayoritas mereka berasal dari negeri China, sebelum mereka menuju Monterado terlebih dahulu beristirahat di Singkawang, sedangkan para penambang emas di Monterado yang sudah lama sering beristirahat di Singkawang untuk melepas kepenatannya dan Singkawang juga sebagai tempat transit pengangkutan hasil tambang emas (serbuk emas).

Waktu itu, warga etnis Tionghoa menyebut Singkawang dengan kata San Keuw Jong yang berasal dari bahasa Hakka, mereka beranggapan bahwa desa ini sangat menjanjikan sebab dari sisi geografis Singkawang berbatasan langsung dengan laut Natuna serta terdapat pengunungan dan sungai, dimana airnya mengalir dari pegunungan melalui sungai sampai ke muara laut.

Melihat potensi tersebut Singkawang para penambang beralih profesi ada yang menjadi petani dan pedagang di Singkawang yang pada akhirnya para penambang tersebut tinggal dan menetap di Singkawang.

Namun disisi lain terdapat dua sumber yang berbeda diantaranya adalah

Kata Singkawang di ambil dari nama tanaman Tengkawang yang hanya terdapat di hutan tropis. Dan pada tahun 1834 Singkawang mulai di kenal orang bangsa eropa dengan kata Sinkawan dikarenakan seorang ahli penulis bernama George Windwor Earl yang menyebut Singkawang dengan kata Sinkawan di buku nya yang berjudul buku The Eastern Seas. Dan ada juga sumber Catatan lainnya didapat dari salah satu penulis G.F De Bruijn yang terkandung dalam De Volken Van Nederlandsch Indie (1920) berjudul De Maleirs yang terjemahannya berbunyi :

“Beberapa puluh mil di sebelah selatan kerajaan (Sambas) dibangun sebuah kota yang dimaksud sebagai kota pemerintahan (Belanda)”

 

Sedangkan sumber kedua berbunyi cerita rakyat yang tersebar adanya Kisah 7 opsir anggota pasukan Kubilai Khan. Pasukan yang dipimpin oleh 3 jenderal itu – I-heh Mishih, Shihpi, dan Kau Hsing – dikirim oleh kaisar untuk menghukum “raja Jawa” yang pernah menghina utusan kaisar. Raja Jawa yang dimaksud adalah Sri Kertanegara, raja Singasari. Akan terapi pasukan Cina itu berhasil diperdayai oleh Sri Wijaya (pendiri kerajaan Majapahit). Sehingga pada tanggal 31 Mei 1293 seluruh pasukan Cina itu tergopoh-gopoh mening-galkan Jawa. Dalam pelayaran kembali ke daratan Cina itulah, dalam keadaan kelelahan, kapal mereka diserang badai. Mereka terpaksa mendarat di pantai barat Kalimantan untuk memperbaiki kapal.

 

Pada waktu berlayar kembali, 7 orang opsir temyata tidak terbawa serta. Ketujuh opsir itu kemudian hidup menetap di Singkawang dan menikah dengan gadis-gadis setempat. Menyaksikan Pesona Imlek dan Cap Go Meh Kota Singkawang

 

Berdasarkan sumber diatas tentunya kita sudah beranggapan bahwasanya kota ini memiliki beberapa sejarah yang unik serta Wisata Kota Singkawang yang menarik

Menyaksikan Pesona Imlek dan Cap Go Meh Kota Singkawang

 

Meskipun terkenal dengan nama Hongkongnya Indonesia “Karena mayoritas penduduk disana merupakan warga Tionghoa”  Singkawang juga memiliki beberapa hidangan yang halal, seperti Bakso Singkawang yang terletak di Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 68.

Bakso disini terkenal karena olahan tekstur dagingnya yang lembut. Selain itu masakan lain seperti Bubur Paddas merupakan alasan lain mengapa hidangan di kota Singkawang layak di coba.

Selain masakan tentu kita juga dimanjakan dengan Pesona Kota Singkawang seperti Singkawang Cultural Center, yang didirikan pada tahun 2017. SCC didesain oleh arsitek Hendy dan Patrick Lim. Singkawang Cultural Center dibangun atas dasar keinginan menjadikan Singkawang sebagai tujuan wisata dunia berbasis budaya atau branding world tourism destination. Guna melestarikan nilai-nilai budaya, SCC dibangun menggunakan produk-produk lokal.

Kelenteng-kelenteng juga banyak ditemukan disini sebab Kota Singkawang dijuluki juga dengan istilah kota Seribu Kelenteng. Tidak heran jika salah satu wisata budaya Singkawang adalah kelenteng. Seperti. Kelenteng Bumi Raya merupakan kelenteng bersejarah. Bangunan ini berdiri sejak 1878 dan dijadikan ikon Kota Singkawang.

 

Menyaksikan Pesona Imlek dan Cap Go Meh Kota Singkawang

 

Waktu yang tepat untuk berkunjung ke Singkawang adalah ketika perayaan Cap Go Meh atau  yang lebih terkenal dengan nama Festival Cap Go Meh Singkawang. Mengapa Demikian ? Hal ini seperti yang sudah Setioko ungkap diatas yaitu penduduk kota ini mayoritas adalah Tionghoa, meskipun demikian ada sebuah alasan khusus mengapa kota ini layak di kunjungi pada saat Cap Go Meh.

Alasannya adalah Pada saat perayaan Cap Go Meh, kota ini  terdapat festival Tatung yang ketenarannya sudah terkenal hingga mancanegara.

Tatung merupakan pertunjukan yang telah menjadi salah satu bentuk asimilasi budaya di Singkawang. Tatung dalam bahasa Hakka berarti orang yang dirasuki roh, dewa, leluhur, atau kekuatan supranatural. Pawai tatung di Singkawang ini merupakan yang terbesar di dunia.

Daerah Singkawang sendiri memiliki penduduk asli yakni Suku Dayak, Melayu yang berbaur dengan warga Tionghoa yang sudah lama tinggal di sana. Kesemuannya tidak beragama atau dikenal dengan animisme. Wilayah Singkawang awalnya merupakan bagian dari wilayah Sambas yang melingkupi Kota Singkawang, Kabupaten Sambas, dan Kabupaten Bengkayang.

Sambas bermakna sam (tiga) bas (etnis), yang berarti penduduknya terdiri dari etnis Melayu Sambas, yang beragama Islam, peleburan dari berbagai suku atau etnis yaitu Melayu, campuran Tionghoa-Dayak Islam, Bugis, Jawa yang beragama Islam mengidentifikasi diri sebagai etnis Melayu.

Kedua etnis Tinghoa, yang beragama Samkaw (Tao, Buddha dan konfusius), Katolik, Protestan merupakan turunan Tionghoa perantauan, turunan campuran Tionghoa Dayak yang mengidentifikasi diri dalam etnis Tionghoa Indonesia. Ketiga, etnis Dayak, beragama Katolik, Protestan, Islam dan sebagian kecil animisme, mengidentifikasi diri dengan suku Dayak (penduduk asli Kalimantan). Menyaksikan Pesona Imlek dan Cap Go Meh Kota Singkawang

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang 2019” yang diselenggarakan oleh Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang.

Buat blogger yang sudah pernah atau ingin sharing mengenai festival cap go meh di Singkawang, jangan ketinggalan untuk ikutan lomba blog dari Genpi Singkawang.

Sebab setiap Blogger berkesempatan menangin hadiah dengan total Rp.7.500.000,- tunggu apa lagi tulis sekarang dan kirimkan link tulisan ke sosial media dengan hastag #lombabloggenpiskw #genpisingkawang #pastikesingkawang #capgomehsingkawang2019

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *