Hutan Kalimantan akan punah

Hutan Kalimantan akan punah
Hutan Kalimantan akan punah

Hutan Kalimantan akan punah –  Tema yang Setioko tulis kali ini bukanlah tema sembarangan, sebab berdasarkan Survey yang di kutip melalui sebuah artikel menyebutkan bahwa World Wildlife Fund, memprediksi Kalimantan akan kehilangan 75 persen luas wilayah hutannya pada 2020 menyusul tingginya laju deforestasi.

“World Wildlife Fund, memprediksi Kalimantan akan kehilangan 75 persen luas wilayah hutannya pada 2020 menyusul tingginya laju deforestasi.”

Salah satu penyebab sekaligus ancaman utama bagi kelangsungan flora di Kalimantan yang justru menyebabkan Hutan Kalimantan akan punah dalam beberapa dekade mendatang, salah satunya adalah banyaknya penanaman Kelapa Sawit secara membludak dimana tanaman tersebut memiliki efek negatif bagi kelangsungan kehidupan hutan.

Mengapa bisa dikatakan demikian ? Sebab ada beberapa hal yang dapat menjadi alasan bahwasanya Kelapa sawit tidak boleh di tanam di Indonesia.  Diantaranya adalah :

  1. Kerusakan ekosistem hayati

Pada dasarnya Kelapa sawit bukanlah ekosistem hayati sebagaimana hutan. Selain itu Dauna yang dapat hidup di perkebunan kelapa sawit bukanlah hewan yang mampu melestarikan hutan, melainkan hewan perusak tanaman diantaranya adalah  babi, ular, dan tikus. Sehingga dibandingkan dengan kelapa sawit maka keberadaan hutan jauh lebih penting.

  1. Pembukaan lahan dengan cara di bakar

Pembukaan lahan dengan cara di bakar sebenarnya sudah sering di peringatkan bahkan sudah ada Undang-undang yang mengatur mengenai hal ini, walaupun demikian peraturan undang-undang tersebut tampaknya hanya formalitas belaka. Sebab, meskipun sudah dilarang, pembukaan lahan seringkali dilakukan dengan cara tebang habis atau yang lebih dikenal dengan nama land clearing.

Hal ini sering menyebabkan bencana alam yang dapat membuat malu nama baik Indonesia di mata dunia, yaitu Kabut Asap. Peristiwa ini sendiri bukanlah hal yang baru tentunya. Selain itu pembukaan lahan dengan cara di bakar akan membunuh satwa yang langka seperti Orang Utan.

  1. Kerusakan unsur hara dan air dalam tanah

Seorang peneliti lingkungan dari Universitas Riau yang bernama Ariful Amri Msc, pernah meneliti kerusakan tanah karena perkebunan kelapa sawit. Hasil dari penelitian tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwasanya, dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter unsur hara dan air dalam tanah.

  1. Banjir dan tanah longsor

Tidak dapat di pungkiri bahwasanya, praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit seringkali dianggap sebagai penyebab utama bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Bahkan di musim kemarau pun wilayah itu akan mengalami kekeringan, karena sifat dari pohon sawit yang menyerap banyak unsur hara dan air dalam tanah.

Hutan Kalimantan akan punah

 

Salah satu bukti menyebutkan bahwa tanaman kelapa sawit juga dapat merusak jalan desa, hal ini disebabkan Tanah pedesaan bukanlah jalan darat yang mirip dengan daerah perkotaan. Dimana, tanah di perkotaan pada umumnya keras karena sudah di aspal, di cor maupun dilakukan perbaikan pertahunnya.

Sangat miris memang, mengingat Borneo atau Kalimantan merupakan kepulauan terbesar nomor tiga di dunia dan menjadi  pulau terbesar nomor satu di Asia.

Selain itu, Hutan hujan Tropis “Rainforest” di Kalimantan merupakan hutan tropis yang telah hidup selama 140 juta tahun. Sehingga patut di katakan bahwa hutan hujan di Kalimantan merupakan hutan hujan tertua di dunia.

Disinilah terdapat berbagai macam spesies, hewan maupun tanaman  termasuk hewan dan tanaman yang langka seperti burung Enggang, Leopard Kalimantan, Gajah Kalimantan,  dan Dayak fruit bat sehingga keberadaan hewan-hewan langka tersebut harus di lindungi.

Patut pula, di katakan bahwa Kalimantan merupakan Jantung Dunia. Lalu bagaimana jika Hutan di Kalimantan akan punah ?

Hutan Kalimantan akan punah

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita membayangkan sejenak andaikata hewan kecil seperti semut pun tak lagi tumbuh di daerah hutan Kalimantan maka apa yang terjadi  ?

Jawabannya adalah sampah organik di dasar hutan akan menumpuk. Penguraian akan berlangsung lebih lambat sehingga hutan tropis Kalimantan tak akan sesubur saat ini.

Persoalan lainnya jika ekosistem di hutan Kalimantan rusak, maka kita takkan lagi menemukan herbal atau obat tradisional, dimana obat tradisional lebih manjur pada umumnya daripada obat-obatan kimia.

Jika ekosistem di hutan Kalimantan rusak, maka jangan heran jika rantai makanan di daerah pedalaman Kalimantan juga rusak, sehingga banyak hewan buas berkeliaran dan akan mengancam ekosistem manusia.

#Ceritadarihutan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 + nineteen =