Kopitiam Aneka Pavilion Pontianak Lezatkah

Pontianak bisa dijuluki sebagai kota yang memiliki seribu warung kopi, mengapa demikian ? hal ini disebabkan karena hampir disetiap penjuru kota Pontianak selalu kita jumpai warung kopi, baik yang tradisional maupun semi modern dan Modern, berbagai jenis warung kopi tampil dengan ciri khas masing-masing. Ada yang bergaya Western ala Barat dan tentunya harga untuk mencicipi secangkir kopi disini dalam tentulah harus merogoh uang saku lebih dalam. Maksud dari pernyataan kalimat diatas adalah untuk mencicipi secangkir kopi di Kedai Kopi atau Kafe dengan bergaya Western Lifestyle maka kita harus membawa uang lebih sebab harga kopi atau minuman lainnya di Western Cafe amatlah mahal.

Sebagian diantaranya adalah warung kopi bergaya melayu atau tradisional sebutlah Traditional Malayan Cafe. Dimana kita bisa menemukan tempat seperti ini di gang kecil dengan ciri khas tempat yang kecil biasanya berupa pos ronda mereka menyediakan hidangan makanan ringan tradisional seperti risoles, pisang goreng, bakwan dan sebagainya. Traditional Malayan Cafe tidak memerlukan uang yang besar sebab untuk kudapan atau snack disana amatlah murah.
Selanjutnya mari kita berkenalan dengan Warung kopi bergaya China atau Chinesse Cafe, seperti contoh Warung Kopi AsiangWarung Kopi Aming, Suka Hati dan sebagainya. Warung kopi seperti ini memiliki  ciri khas  sendok kopi yang berbentuk sendok bebek dan terbuat dari besi. 

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa masyarakat disini suka menghabiskan waktu berjam-jam, hanya untuk small talking, chit chat atau ngalor ngidul dalam bahasa Pontianak dikenal dengan nama Ngerampot-rampot ? Sebenarnya bukan itu pertanyaannya, sebab masyarakat disini lebih senang berbicara sambil berkhayal dan itu sudah menjadi kebiasaan warga yang tinggal di kota-kota atau negara yang sebagian besar penduduknya berbahasa melayu seperti di Malaysia, Riau, Aceh, Medan sehingga yang menjadi jawaban dari pertanyaan diatas adalah sebagian besar warung kopi di Pontianak menggunakan fasilitias Free Wi-fi atau Internet Gratis dengan menggunakan jasa dari penyedia ISP Nasional pada umumnya.

Bahkan dari kegiatan berjam-jam di warung kopi, sebagian warga kota Pontianak telah melakukan transaksi sebesar puluhan juta rupiah setiap harinya, itulah sebabnya masyarakat disini menjadikan warung kopi sebagai salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi setiap hari.

Berbicara tentang warung kopi, saat ini sudah ada franchise kopitiam yang berasal dari Singapura. Memang sebelumnya di Kota Pontianak dapat ditemuan berbagai macam Kopi Tiam dengan embel-embel nama toko seperti Kopi Tiam Alau dan sebagainya.
Kali ini kita akan membahas Kopitiam yang beralamat di Aneka Pavilion Jalan Kota Baru Pontianak, Keistimewaannya apa ? bagi masyarakat lain beranggapan bahwasanya kopitiam seperti ini adalah Western Cafe terbaik, namun tidak menurutku.

Amat sulit jika Kopitiam tersebut ingin bersaing di Pontianak, apa sebab ? Harga yang ditawarkan

amatlah mahal, sampai saat ini aku pun merasa heran aku minum Kopi Ping O dengan harga Rp. 18000 tapi aku harus membayar sejumlah Rp. 22000,- dari tambahan empat ribu tersebut. Okelah mereka berdalih bahwa Rp. 22000 itu berasal dari pajak 10 %.
Mari kita hitung, jika memang ada tambahan pajak 10% maka uang yang harus kubayar adalah     Rp. 18800,- dan tidak ada tambahan Rp. 4000,- berarti disini ada unsur riba atau apalah namanya. Darimana aku dapat berkesimpulan bahwa pajak yang seharusnay kubayar hanya beberapa ratus rupiah saja ? Jawabannya beberapa hari setelah aku minum di Kopitiam tersebut, aku juga berkunjung ke Depac Cafe, aku memesan Es Teh dan uang yang kubayar hanyalah Rp. 7700,- amat murah bukan ?

Mengapa Kopitiam yang beralamat di Aneka Pavilion tersebut tidak terbuka bahwa harga Kopi Ping O itu seharga Rp. 18000 ditambah dengan sewa tempat sehingga anggaplah Rp. 20000 ? Oke itu soal harga.

Lalu bagaimana dengan rasa ? Rasa Kopi Ping O tersebut amatlah tawar bahkan gula cair yang di hidangkan dihadapanku tak juga mampu mengalahkan rasa tawar tersebut. Ya, jujur aku kecewa, oleh sebab itu review buruk kuberikan untuk kafe ini.  Amat sulit bagi kedai kopi seperti ini bertahan di Pontianak apalagi masyarakat di kota ini sudah terhipnotis dengan kopi murah yang harganya hanya Rp. 7000 atau tujuh ribuan rupiah, namun memiliki keenakan tersendiri.  Namun bagi para Borjuis di Pontianak Kopitiam amat kurekomendasikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 − one =