Bahasa Daerah di Kalimantan Barat, Terancam Punah ?

Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang terdiri dari
berbagai macam suku dan adat istiadat Negara ini terletak di dua Benua yaitu
Benua Asia tepatnya Asia Tenggara dan Australia dibagian timurnya,  terdapat ribuan kepulauan yang terdapat di
Indonesia, dimana Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra adalah
pulau-pulau terbesar yang terdapat di Indonesia, Uniknya Indonesia diapit oleh
berbagai negara yaitu Australia, Malaysia serta Brunei Darusallam dan Timor
Leste. Kemerdekaan Indonesia telah lama dicetuskan oleh Presiden Pertama RI
yaitu Ir. Soekarno lewat Pidato Proklamasinya. Indonesia merdeka tepat pada bulan
Ramadhan berdasarkan kalender Hijriah dan 17 Agustus 1945 Masehi tepat di Hari
Jumat pukul 10.00 pagi.

Sebagai negara yang terdiri dari berbagai macam suku dan
kebudayaan yang majemuk tentu bahasa Osing di Jawa Timur tepatnya di
Banyuwangi, bahasa Madura di Jawa Timur yang digunakan oleh penduduk di
kepulauan Madura, namun untuk ibukotanya menggunakan bahasa Jawa.  Begitu juga dengan Mentawai yang terdapat di
Sumatera Barat berbeda penggunaan bahasanya dengan bahasa Minangkabau di
ibukotanya Padang.

Indonesia memiliki berbagai macam bahasa Daerah
yang berbeda-beda, uniknya satu provinsi di Indonesia biasanya terdapat dua bahasa
Daerah dimana bahasa yang digunakan pada ibukota Provinsi berbeda dengan bahasa
Daerah di setiap Kabupaten, seperti

Sebagai konsekuensi akibat dari kebudayaan yang majemuk adalah
tentu banyak bahasa daerah yang telah mengalami kepunahan, Berbagai literatur
di Internet mengatakan bahwa setidaknya terdapat 14 (empat belas) bahasa di
Indonesia yang sudah punah antara lain 10 bahasa dari Maluku Tengah, yakni
bahasa Hoti, Hukumina, Hulung, Serua, Te’un, Palumata, Loun, Moksela, Naka’ela,
serta Nila kemudian Ternateno dan Ibu yang berasal dari Maluku Utara lalu Saponi
serta Mapia yang berasal dari Papua.

Lalu bagaimana dengan Kalimantan Barat ? sebagai penulis aku
menemukan sudah banyak kosakata yang berasal dari Melayu Pontianak sudah hilang
penggunaannya, kata-kata tersebut sudah berasimilasi dengan kosakata Prokem
Jakarta, mungkin bagi masyarakat Pontianak modern merasa asing dengan kata-kata
sebagai berikut

Along ; Long yang berarti Pak long atau Paman yang
tertua didalam bahasa Jawa di kenal dengan nama Pakde

Anjjang ; Njang : Yang berarti tinggi

Blanat : Yang bermakna menghajar

Ngaloy : Yang bermakna Melobi
subang  : Yang bermakna anting-anting

Meski penggunaan bahasa Melayu Pontianak masih digunakan di
ibukota Provinsi namun pada kenyataannya banyak kosakata yang sudah hilang dan
bercampur dengan bahasa Jakarta, bahkan saat ini penggunaan kata ganti “Kamek”
sudah jarang digunakan. Masyarakat lebih senang menggunakan kata ganti Saye dan
Aku

Nelson Mandela salah satu Presiden Afrika Selatan pernah
mengatakan “Jika kalian berbicara dengan seseorang menggunakan bahasa yang
mereka mengerti mungkin hal itu hanya sampai kepada kepalanya, namun jika
kalian menggunakan bahasa asalnya atau bahasa Ibu dengan mereka hal itu akan
sampai ke hatinya”

Ini baru ibukota Provinsi, belum lagi dengan bahasa Daerah
di Kabupaten lainnya, Namun syukurlah pada tanggal 21 Februari 2017, sekumpulan
pemuda di Pontianak mendeklarasikan penggunaan bahasa Daerah di Kalimantan
Barat. Bahkan akan ada suatu penerbitan yang menerbitkan novel atau cerpen yang
menggunakan bahasa Daerah di Kalimantan Barat.

Deklarasi ini di helat pada acara Gawai Bahasa  Daerah yang turut di tayangkan secara
langsung oleh TVRI dan bertepat di Rumah Melayu Pontianak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 + 6 =