Yuk Menjadi Blogger Radikal

Bukankah paham radikal itu
berbahaya. Sebenarnya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata radikal
memiliki banyak arti.

Pertama, secara mendasar (sampai
kepada hal yang prinsip).

Kedua, politik amat keras menuntut
perubahan (undang-undang, pemerintahan).

Ketiga, maju dalam berpikir atau
bertindak.

 Sehingga menjadi blogger radikal berarti
seorang blogger yang berpikiran dan bertindak maju serta menjadi aktor
perubahan yang mendasar.  Menjadi seorang
blogger yang radikal tidak ada kaitannya dengan orang yang berbau agama,  bukan itu maksudnya

Kata radikal juga tidak pantas
dilekatkan pada orang yang suka main kekerasan kepada pihak yang tidak
sependapat dengannya. Kata radikal terlalu mulia dilekatkan kepada mereka.
Mereka adalah kelompok atau orang yang intoleran bukan radikal. 

 Kata radikal juga tidak pantas
dilekatkan pada orang yang suka main kekerasan kepada pihak yang tidak
sependapat dengannya. Kata radikal terlalu mulia dilekatkan kepada mereka.
Mereka adalah kelompok atau orang yang intoleran bukan radikal.

Nah, kembali ke persoalan blogger
radikal. Syarat menjadi blogger radikal tidaklah sulit. Kita hanya perlu
membekali diri kita dengan berbagai macam bacaan sebagai referensi kita dalam
menulis. Kita juga perlu bergaul dengan masyarakat, utamanya mereka yang dalam
posisi lemah, sehingga kita dapat menyelami persoalan yang mereka hadapi.

Menyelamai persoalan masyarakat
bawah ditambah membaca berbagai macam bacaan adalah perpaduan sempurna bagi
para blogger untuk berpikir dan bertindak maju serta mengutarakan perubahan
sosial secara mendasar.  Seorang Blogger
sejati harus memiliki banyak refrensi bacaan dan peka akan lingkungan social.
Sehingga menjadi blogger radikal, tidak terjebak untuk menyimpulkan sebuah
persoalan hanya pada permukaannya saja.

Kita akan melihat persoalan lebih
dalam dan utuh. Misalnya, bila ada berita mengenai penggusuran warga miskin di
bantaran sungai untuk proyek revitalisasi atau normalisasi sungai, maka seorang
blogger yang radikal akan melihatnya lebih dalam dan utuh dengan mengaitkannya
pada persoalan tata ruang kota dan dominasi penguasaan lahan.

Seorang blogger radikal akan melihat
dominasi penguasaan lahan oleh segelintir orang kaya menjadi akar persoalan
mendasar bukan orang-orang miskin yang terpaksa tinggal di bantaran sungai. 

Seorang blogger radikal akan melihat
dominasi penguasaan lahan oleh segelintir orang kaya menjadi akar persoalan
mendasar bukan orang-orang miskin yang terpaksa tinggal di bantaran sungai. 

Begitu pula bila ada berita terkait
maraknya ujaran kebencian berlandaskan SARA yang marak akhir-akhir ini, maka
seorang blogger radikal tidak akan hanyut dalam propaganda kebencian itu.
Seorang blogger radikal akan melihat situasi ekonomi-politik apa yang hendak
dikaburkan dengan maraknya ujaran kebencian berdasarkan SARA tersebut.

Begitu pula ketika ada propaganda bangkitnya
komunisme di Indonesia, maka seorang blogger radikal justru akan melihat
kepentingan elite apa yang sedang dibangun di balik munculnya propaganda
bangkitnya komunisme di Indonesia. Blogger radikal dengan sendirinya bukanlah
sosok yang intoleran. Kenapa? Karena ia membaca dan memeriksa berbagai sumber
sebelum memproduksi konten di blog. Ia bisa belajar dari pihak mana saja, baik
dari ekstrim kanan hingga kiri, dan menembus batas perbedaan agama, ras dan
golongan. Blogger radikal tidak mencari siapa yang benar tapi apa yang benar
dan menjadi akar persoalan di masyarakat. Begitulah blogger radikal. Masih
takut menjadi blogger radikal? Masih enggan menjadi blogger radikal?

sumber tulisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 + 19 =