Apa itu Hoax

Pernahkah kita mendengar tentang Dajjal yang lagi berteriak diaceh, dan dimana kita harus menyebarkan berita tersebut hingga ke 100 orang ? Atau Berita tentang wanita yang dikutuk menjadi ikan Pari ? Jawabannya pasti pernah namun hal itu tidak pernah terjadi, Sebab ternyata wanita yang dikutuk itu adalah seekor ikan gitar yang memang mirip dengan ikan Pari. Sedangkan dajjal yang berteriak, itu juga hoax, sebab Dajjal saat ini belum menampakkan wujud aslinya, Dia terperangkap didalam suatu pulau bukan dibawah lautan.

Inilah yang dimaksud dengan Hoax.  Kamus Bahasa Inggris Oxford (2009) mencatat hoax berasal dari tahun 1796 sebagai “mengelabuhi atau kegiatan membujuk agar mempercayai rekayasa atau fiksi yang mengagumkan” atau “memainkan rasa percaya terhadap suatu hal”.Menurut Fredal (2014),Fenomena menggunakan hoax sudah ada sejak Zaman Pencerahan (Enlightenment) yang menandai kebangkitan sains dan teknologi, yang mana saat itu hoax digunakan baik untuk mengolok maupun memalsukan kepercayaan lama dan pengetahuan baru
Sebenarnya hoax sudah dapat dijumpai dalam berbagai naskah Yunani kuno,misalnya dalam naskah Euthydemus yang ditulis Plato.Seiring perkembangan zaman,Hoax tidak hanya berupa berita saja. Hoax dapat berbentuk Hoax Akademis misalnya saja yang paling terkenal yakni karya Sokal yang berjudul Hermeneutika Transformatif,Hoax saintifik seperti teori Bulan Besar (Great Moon) dan teori Raksasa Cardiff (Cardiff Giant),Hingga penemuan relik relik keagamaan yang dipalsukan (Fredal,2014).
Mengapa orang memilih untuk menyebarkan hoax?

1.Rendahnya kemampuan literasi media terutama kemampuan literasi siber (cyberliteracy).
Faktor kunci mengapa hoax dipilih untuk disebar oleh orang umumnya karena kurangnya kemampuan literasi,terutama literasi siber dewasa ini. Literasi media dapat dipahami sebagai kemampuan mengakses,menganalisa,mengevaluasi dan mengkomunikasikan pesan melalui berbagai jenis media (Livingstone,2003 dalam Suwarto,T.T).Literasi media juga dapat dipahami sebagai suatu cara pandang yang kita gunakan secara aktif ketika berhadapan dengan media dengan maksud untuk menafsirkan makna dari pesan yang kita hadapi (Potter, 2001. dalam Suwarto,T.T). Lebih lanjut,kemampuan literasi siber adalah kemampuan untuk memisahkan fakta dan fiksi,mendeteksi ekstremisme dalam perdebatan yang rasional dan berbagai hal problematis bahasa tertulis yang menjadi masalah dalam komunikasi secara online. Inti dari kedua konsep tersebut adalah menentukan sikap dalam menghadapi informasi yang diterima dengan senantiasa bersikap kritis yang sehat. Sikap kritis yang sehat tersebut dapat diwujudkan dengan memeriksa kembali kabar yang datang pada kita dan tidak mudah menyebarkan kabar yang belum jelas baik tujuan maupun asal-usulnya.

2.Pilah-pilih berita berdasar suka-tidak suka yang berujung petaka.
Sikap kritis yang berwujud sikap pilah pilih berita dalam menghadapi berbagai jenis kabar tidak cukup untuk menanggulangi hoax.Tidak jarang sikap pilah-pilih yang negatif juga muncul,yakni pilah pilih hanya karena menyukai atau tidak menyukai suatu pemberitaan.Obyektifitas menjadi hilang dan kemudian membuat publik menjadi rentan menyebar hoax dari pihak yang mereka sukai dan memuaskan diri.Hal ini dapat dijelaskan melalui salah satu teori komunikasi massa yakni Expetancy Value Theory,yang mana massa memilih mengonsumsi berita dalam rangka untuk memenuhi kepuasan mereka (Palmgreen,1984 dalam Utwente.nl,T.T). Asumsi inti teori ini adalah massa memilih mengonsumsi berita atau fakta atas dasar kepercayaan (belief) dan keperluan (evaluation) sehingga memilih mencerna yang mereka sukai dan menghindari fakta atau berita yang tidak disukai. Fenomena ini dapat kita lihat pada laris-manisnya bisnis buzzer politik yang ramai dewasa ini,Misalnya saja : penggemar Jokowi hanya akan menyebarkan berita yang menonjolkan prestasi presiden Jokowi dan cenderung menghindari pemberitaan yang “menyerang” presiden Jokowi.

Seiring perkembangan zaman, jenis dan lingkup hoax turut berkembang dan dari perkembangan tersebut menunjukkan varian yang sangat beragam. Meskipun beragam,bukan berarti hoax tidak memiliki pola umum yang dapat diketahui.Laura J Gurak (2001) memberikan pandangan bahwa paling tidak terdapat 3 bagian atau “organ” utama suatu hoax. Ketiga bagian tersebut adalah :
(1) Kail atau dapat disebut sebagai pancingan,

(2) bagian kedua adalah ancaman dan bagian terakhir

(3) adalah permintaan atau request. Untuk lebih mudah memahaminya,mari kita bedah satu
persatu.

1.Kail atau pancingan
Untuk mengail pembaca,suatu hoax akan bermain dengan ketakutan,keserakahan ataupun simpati korbannya. Misalnya saja dalam bagian awal tulisan ini,anda dapat menjumpai bahwa anda ditakut-takuti dengan nasib sial atau diberi iming-iming nasib baik apabila meneruskan kabar tersebut.

2.Ancaman
Suatu hoax umumnya akan berusaha agar membuat anda merasa bodoh,mempermainkan rasa bersalah anda dan menakut-nakuti anda dengan nasib sial apabila anda tidak menuruti instruksi mereka.Dapat dilihat dalam paragraf pertama,hoax tersebut mengancam anda dengan nasib sial. Terlebih sebagai penganut agama tertentu,anda akan dibuat merasa bersalah apabila tidak menyebarkan kabar lancung tersebut.

3.Permintaan
Suatu hoax akan meminta anda untuk melakukan sesuatu yang mana umumnya untuk mendistribusikan berita lancung tersebut ke lebih banyak orang. Dapat dilihat dalam paragraf pertama,hoax tersebut berhasil memaksa penulis untuk menuruti menyebarkan berita tersebut ke lebih banyak orang melalui media pesan singkat.Dalam perkembangannya,tidak hanya melalui pesan singkat namun permintaan yang disematkan dalam suatu hoax bisa berupa perintah untuk membagikan di facebook,melakukan retweet di twitter maupun menekan tombol like di instagram.

Selain 3 ciri tersebut, terdapat pula ciri lain yang bisa dijadikan ukuran untuk mendeteksi hoax. Antara lain :

1.Tidak adanya referensi asal-muasal berita,terutama apabila hoax tersebut terkait dengan topik kesehatan,tidak dicantumkan referensi berupa jurnal amupun penelitian lainnya.

2.Logika bahasa yang cenderung kontradiktif

3.Kabar tersebut terlalu baik atau terlalu buruk untuk menjadi kenyataan

4.Berita yang mengandung Hoax cenderung tidak bisa diperiksa silang dengan media massa dengan kredibilitas tinggi atau hanya dapat dijumpai di situs berita sejenis yang mengandung hoax serupa.

5. Terdapat kata kata yang menekankan atau menjadikan makna dari suatu judul berita tersebut menjadi berlebihan. Varian hoax terbaru bahkan tidak segan menggunakan kata kata yang relijius seperti “Masya Allah”, “Subhanallah”atau juga “Puji Tuhan”.

-Bagaimana kita mengukur kesuksesan hoax dalam menipu?

Kita dapat mengukur kesuksesan sebuah hoax dalam menipu dari jumlah perhatian publik yang berhasil ditarik oleh hoax tersebut (Fredal,2014). Dalam hal ini,perhatian yang dimaksud tidak hanya terbatas pada jumlah like,share pada suatu media sosial dalam Internet.

Hoax yang sukses dapat menimbulkan perselisihan dan perdebatan dalam masyarakat.Hal ini dikarenakan memang sifat alamiah hoax yang memang ditujukan sebagai upaya penipuan publik (Fredal,2014).Selain perhatian atau atensi publik, hoax yang dikatakan sukses mampu menyampaikan klaim implisit yang tidak berhasil dicermati oleh publik. Hal ini bisa terjadi karena publik lebih sibuk untuk berdebat dan mematahkan hal hal eksplisit yang diklaim oleh hoax tersebut (Fredal,2014).

Salah satu karakteristik yang juga dapat digunakan untuk mengukur kesuksesan hoax adalah target dan inang yang digunakan oleh pembuat hoax (hoaxer). Untuk memahaminya,kita dapat melihat salah satu hoax terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah yakni Hoax Sokal. Pada tahun 1996,Alan Sokal sengaja mengirimkan artikel berjudul Transgressing the Boundaries: Toward a Transformative pada penerbit jurnal akademis kenamaan bernama Social Text yang berfokus pada studi kebudayaan posmodern . Tidak hanya berhasil memantik perdebatan, artikel tersebut berhasil “menitis” dalam bentuk artikel pada jurnal akademis ternama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eleven − 7 =