Travelling : Belajar dari negeri jiran, Kuching Malaysia

971299 4683920230666 536761670 n - Travelling : Belajar dari negeri jiran, Kuching Malaysia
Musium Kucing
Sebenarnya ini adalah artikel lama yang kutulis di facebook,
tapi aku ingin kembali sharing tulisan ini di blog setioko.web.id
Salah satu tempat yang mulai menarik perhatianku adalah
museum kucing, dimana didalam museum ini hanya terdapat kucing-kucing miniatur.
yang menarik perhatianku adalah cara pemerintah negara bagian Sarawak dalam
merawat museum ini. Hal yang berbeda dengan Museum Negeri Pontianak, dimana
isinya tidak jelas dan banyak barang yang hilang. Yang kedua adalah museum
Purbakala Sarawak, didalam museum itu kita tidak hanya menemukan manusia Purba
tapi juga orang utan, hewan, ikan yang berada di Kalimantan, mereka berani
mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya untuk mengurus museum ini. Hal kecil yang
setidaknya bisa dipikirkan oleh Pemerintah Daerah, di museum ini juga terdapat
keris dimana keris ini mereka juga mengklaim dari Jawa Indonesia bukan dari
Malaysia lagi.
Berbicara mengenai keris, jujur aku heran dengan berbagai
macam kesenian dan kebudayaan Negara Indonesia. mengapa kita kurang
mempedulikan hal-hal bersejarah seperti tari-tarian, makanan khas, dan baru
marah besar Jika Negara lain mengambilnya. Tapi marah yang tiada guna. Jujur
aku masih bangga dengan masyarakat Jawa 
dimana mereka tetap memandikan keris. meski Zaman sudah berubah, Di
Jogjakarta khususnya, masih ada acara sekatenan. Di Pontianak juga ada yaitu
Nek Dango, Gawai Dayak tapi kurang di maksimalkan penyajian programnya.
Sehingga terkesan apa adanya.Ada pula hal yang menarik lainnya yaitu, didalam
Museum itu kita menemukan replika miniatur Rumah Dayak Iban, dan didalamnya
kita juga mendengar suara Burung, Orang Utan hingga Anjing yang banyak di
pelihara oleh mereka.
Ada pula pengetahuan tentang alat-alat musik tradisional
yang tersimpan dalam kaca tapi kita bisa mendengar suara mereka lewat layar
touch screen.  Semoga Pemerintah Daerah
mampu membuat replika di Museum Negeri Pontianak. Untuk kebudayaan sudah wajib
hukumnya untuk Warga Negara Pontianak mempelajari Bahasa Inggris. Sehingga ada
nilai plus bagi turis asing saat berkunjung ke Kota Khatulistiwa ini.
Jalan raya di Kuching cukup bersih, setiap hari mereka sapu
dan bersihkan. untuk drainase air, mereka membuat lubang-lubang kecil didekat
selokan sehingga tidak terjadi banjir saat musim hujan tiba. Di sekitar
tempatku tinggal Laila Inn masih terdapat burung Merpati yang mereka biarkan
apa adanya dan tidak di bunuh / di buru. Bandingkan dengan kota Pontianak,
dimana masih banyak pemburu liar yang dibiarkan apa adanya. Membunuh burung
tapi tak tahu hasilnya mau diapakan. Untuk jalan raya menuju pantai damai
Santubong misalnya, masih banyak terdapat hutan-hutan hijau dan di pagari agar
tidak dapat di curi oleh orang-orang jahil. Di Bandar Kuching, masih terdapat
pohon-pohon besar yang terletak di tengah Jalan (membatasi antara jalur kanan
dan kiri) sehingga membuat pemandangan tampak asri. Mereka juga tidak menebang
Pohon-pohon tua yang usianya lebih dari puluhan tahun.
Bandingkan dengan Kota Pontianak dimana banyak pohon-pohon
yang di letakkan di Trotoar itu pun
jln - Travelling : Belajar dari negeri jiran, Kuching Malaysia

diantaranya ada yang gundul. Mereka juga
sangat disiplin di jalan raya, saling menghormati dan tidak ada kendaraan yang
berlomba-lomba menunjukkan siapa yang terhebat. sehingga begitu lampu hijau
menyala mereka membiarkan jalur lain untuk melewati dulu. Lampu Merah ? Jangan
harap mencoba-coba untuk menerobos.

Kuching memiliki Tower mirip monas, dimana saat kita berada
di level atas, kita bisa melihat seluruh kota Kuching dari atas. Sehingga
memiliki background yang menarik untuk lokasi Hunting / Foto. Aku membayangkan
jika Tugu Khatulistiwa di bangun seperti itu. 
Sehingga kita bisa melihat kota Pontianak dari atas. 
Untuk lokasi waterfront mereka desain sebagus mungkin
sehingga mirip dengan taman-taman di Eropa (meskipun aku belum pernah ke Eropa,
hanya melihat lewat Foto saja). Orang-orang yang berkunjung ke Waterfront
sebenarnya mirip dengan orang-orang yang berkunjung ke Depan makorem yaitu
tujuan mereka untuk pacaran, jualan pernak-pernik dan makanan hanya yang
membedakannya adalah Waterfront di Kuching Pontianak terhubung dengan Bandar
raya batasnya adalah Patung kucing dan hotel besar. Sungai mereka bersih,
(untuk aek kapuas aku masih salut karena ada kelompok di Pontianak yang perduli
dengan Sungai Kapuas dan menginginkan agar air ini bersih) di Sekitar Patung
kucing kita dapat menemukan Mall serta Hotel berbintang seperti Hilton tapi
tertata rapi. Sehingga mirip berada di sebuah kota Modern Hal ini membuat
banyak turis asing lebih memilih untuk berkunjung ke Malaysia daripada
Pontianak Indonesia
1044032 4683932070962 1258611687 n - Travelling : Belajar dari negeri jiran, Kuching Malaysia
Tempat tujuan wisata yang menarik lainnya adalah Indiana
Street, disini banyak terjual pernak-pernik assesoris murah mungkin lebih dapat
dikatakan seperti pasar tengah minus Premanisme atau Malioboro Jogja. Daerah
ini memang khusus untuk menjual barang-barang dan assesoris murah, Jalannya
tidak terlalu panjang hanya beberapa kilometer saja. Setiap kali aku melintasi
jalanan ini maka aku selalu teringat dengan Malioboro, sebuah tempat di kota
Pelajar Jogjakarta dimana aku menghabiskan waktu empat tahun belajar
disana.Bagaimana dengan kuliner. Kuakui masakan di Pontianak lebih lezat
sehingga banyak warga Malaysia datang ke Pontianak hanya untuk mencicipi
hidangan.
Tapi yang membuatku salut adalah tempat / lokasi serta
konsep rumah makan mereka. Ada rumah makan yang berada di bawah Jembatan tapi
di desain dengan konsep yang menarik (Kubah Raya), banyak pula rumah makan yang
terletak di pinggiran Sungai. Kita tidak dapat menemukan Warung Lamongan kaki
lima disini. Ada pula rumah makan yang terletak di atas mall (Taman Kereta)
sehingga kita bisa melihat Seluruh kota Kuching sambil makan malam. Sungguh
konsep yang memanjakan mata bukan.Mungkin hanya itu saja ulasanku tentang
Negeri Jiran yang kukunjungi, intinya mereka maju karena Subsidi pemerintah
maklum Malaysia adalah negara Commonwealth of British Nations (Mereka dijajah
Inggris) sedangkan Indonesia dijajah Belanda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *