Menikmati Kombinasi Masakan Asing dan Indonesia di Waroeng Western Pontianak

Review Waroeng Western Pontianak
Review Waroeng Western Pontianak

Waroeng Western Pontianak – Perkembangan zaman seperti yang terjadi di Kota Pontianak dewasa ini tentu tidak lepas dengan proses akulturisasi termasuk diantaranya dari sektor kuliner.  Sebelum kita membahas mengenai Review Waroeng Western Pontianak, maka Setioko akan memperkenalkan apa yang dimaksud dengan Alkulturasi.

Alkulturasi sendiri adalah Percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi.

Sebagai contoh peringatan tujuh hari tujuh malam orang meninggal, dimana kebudayaan ini merupakan kebudayaan Indonesia kuno, namun semenjak masuknya Walisongo maka tahlilan serta Yasinan menjadi kesatuan pada perayaan tersebut.

Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi, sehingga masuknya kebudayaan asing ke Indonesia menambah perbendaharaan kebudayaan Indonesia.

Selain itu Bangsa Indonesia memiliki apa yang disebut dengan istilah local genius, Dimana maksud dari local genius sendiri merupakan kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolah unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Proses alkulturasi sendiri pada dasarnya mampu berjalan secara cepat maupun lambat tergantung pola piker masyarakat setempat terhadap kebudayaan asing yang masuk.

Jika masuknya melalui proses pemaksaan, maka proses alkulturasi memakan waktu relatif lama. Sebaliknya, apabila masuknya melalui proses damai, alkulturasi tersebut akan berlangsung relatif lebih cepat.

Alkulturasi di bidang makanan dapat kita lihat sebagai contoh Soto, Siomay, Sekoteng, Bakso dimana masakan yang disebut diatas merupakan masakan khas dari negeri tirai bambu yaitu Cina. Begitu juga dengan nasi kebuli yang berasal dari Arab atau Roti Cane yang berasal dari India.

 

Alkulturasi di Waroeng Western Pontianak

 

Kali ini kita tidak akan membahas beberapa makanan yang disebut diatas, sebab makanan yang penulis sebutkan merupakan makanan yang sering dijumpai di kaki lima.

Penulis akan membahas sebuah teknik yang dilakukan oleh Waroeng Western Pontianak.  Mendengar kata western mungkin kita akan langsung teringat dengan negeri Paman Sam yang identik dengan Cowboy nya.

Begitu pula yang Setioko rasakan ketika diajak oleh rekan-rekan Blogger Pontianak untuk mereview Restoran serta masakan yang beralamat di Jalan Putri Candramidi Nomor 88 ini.  Ternyata dugaan Setioko salah besar, apalagi warung ini sendiri dulunya memiliki nama lain yaitu Warung Rawit.

Sebelum di ubah franchisenya menjadi Waroeng Western.  Sebenarnya Waroeng Western sendiri sudah lama berdiri di Jakarta tepatnya di Jalan Syahdan, No.36 C, Palmerah.  Sehingga Waroeng Western Pontianak merupakan cabang dari Waroeng Western yang berada di Jakarta.

Bahkan, menurut situs resmi yang Setioko searching  di Google Waroeng Western ini sendiri telah berdiri sejak tahun 2013, dengan tagline “Indonesian – Western- Deliciously Combined”,

Dengan kata lain Waroeng Western merupakan perpaduan antara masakan Indonesia dengan masakan Barat dan telah menjadi Pioneer dalam menyajikan menu perkawinan kombinasi antara citarasa barat dan citarasa Indonesia.

Hal ini terlihat dari menu yang disajikan oleh Waroeng Western Pontianak  maupun Waroeng Western lainnya yang berada di Indonesia seperti Steak Bumbu Sate dan Spaghetti Saus Matah Bali, selain itu terdapat juga Mie Ayam Pontianak, Mie Keriting Pontianak, Ayam Goreng Bumbu Sate.

Review Waroeng Western Pontianak

Pada undangan Instagram review yang diadakan pada tanggal 09 Juni 2018, Blogger Pontianak bebas memilih makanan apa saja yang disajikan dimana setiap orang berhak memilih satu jenis makanan.

Setioko memilih mie keriting Pontianak, karena Setioko pada dasarnya lebih menyukai masakan chinesse tentu tanpa mengandung sesuatu yang dilarang oleh agama.

Menurut rekan blogger yang lain masakan yang disajikan oleh Waroeng Western Pontianak terasa pedas terutama Spaghetti sambal matah bali.  Namun untuk mie keriting Pontianak terasa asin meski tidak begitu asin garam.

Asin yang dimaksud disini adalah asin mie atau lebih dikenal dengan nama original, atau asinnya mie ramen khas Jepang.  Untuk harga sendiri bagaimana ?

Harga yang disajikan tidak terlalu merogoh kocek terlalu dalam,  berdasarkan menu yang ada harga yang disajikan tidak lebih dari Rp. 20.000,- Sehingga bisa menjadi alternative kawula muda yang ingin mencicipi hidangan lain. Waroeng Western Pontianak

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 − 1 =