Konspirasi Freemason : Hedonisme

masn - Konspirasi Freemason : Hedonisme
freemason
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang
akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat
mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan, Hedonisme merupakan
ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup
dan tindakan manusia
Hedonisme muncul dan merupakan kebudayaan Yunani kuno. Pencetusnya
adalah Sokrates. Dimana intinya adalah ingin mencari kebahagiaan dalam
kehidupan. Di mana seseorang bisa merasa senang, puas, dan bahagia ketika ia
membeli barang-barang kesukannya, terutama dari brand ternama.
Hedonisme membuat orang lupa akan tanggungjawabnya karena
apa yang dia lakukan semata-mata untuk mencari kesenangan diri. Jika hal-hal
tersebut mampu menggeser budaya bangsa Indonesia maka sedikit demi sedikit
Indonesia akan kehilangan jati diri yang sesungguhnya.
Dewasa ini, hedonisme ini tak lagi hanya menjadi sebuah
pandangan, melainkan gaya hidup yang dipilih masyarakat urban. Hedonisme
berkaitan erat dengan kapitalisme. Apa sebab ?  Jawabannya adalah perusahaan kapital menjadi
motor penggerak terwujudnya masyarakat yang hedonisme. Sebagai contoh yang
sangat sederhana.
Dizaman dahulu, terutama saat bulan Ramadhan apalagi saat
sahur, masyarakat sering mendengar ceramah-ceramah yang bermanfaat lewat radio,
namun sekarang ? Masyarakat lebih memilih menyaksikan acara konyol di televisi
saat Ramadhan.
Siapa yang untung ? jawabannya adalah perusahaan sponsor
yang mensponsori acara tersebut, yang lebih berbahaya lagi adalah saat Ramadhan
sering muncul produk-produk baru dimana produk ini membuat ngiler bagi siapa
saja yang melihatnya. Akibatnya nilai religi mulai terkuras perlahan demi
perlahan. Orang lebih mengincar produk tersebut daripada puasa sebagai ibadah. Orang
lebih mengincar hadiah yang jutaan rupiah daripada nilai ibadah.
Contoh kedua adalah saat idul fitri, jika di kota penulis
Pontianak budaya saling mengunjungi atau berbalas mengunjung mungkin saat ini menjadi
primadona meski kebudayaan ini mulai tergerus sedikit demi sedikit, hal yang
serupa tidak terjadi di Jakarta dan kota-kota besar lain, masyarakat di sana
konon katanya saat ini mereka lebih memilih berlibur ke Mall atau Pantai.
Siapa aktor dibalik ini semua ? tentu jawabannya freemason
hal ini sesuai dengan keinginan mereka menguasai dunia dan menghilangkan semua
agama yang ada dibumi. Mengenai Hedonisme Islam memperingatkan
“sesungguhnya orang-orang kafir baik harta mereka maupun
anak-anak mereka, sekali-kali tidak dapat menolak adzab Allah dari mereka
sedikitpun, dan mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. “ (Ali
Imran : 116).
Di dalam Al-Qur’an kalimat yang semakna dengan hedonisme
adalah At Takatsur yang dalam terjemahan versi Depag RI diterjemahkan sebagai
“bermegah-megahan” dengan membubuhkan catatan kaki, “bermegah-megahan dalam
soal anak, harta, pengikut, kemuliaan dan seumpamanya.”
 Al-Qur’an telah
memperingatkan umat manusia agar senantiasa waspada terhadap penyakit ini
dengan sangat keras dengan ancaman siksaan yang amat pedih, baik ketika berada
di alam barzakh maupun di alam akhirat kelak. Hal ini terlihat jelas bahwa
maksud dari firman Allah, “Alhaakumuttakatsur” adalah wa’id atau ancaman
terhadap orang-orang yang selama hidupnya hanya sibuk mengurusi urusan-urusan
duniawi sampai mereka masuk ke liang lahat sedang mereka tidak sempat
bertaubat. Mereka pasti akan mengetahui akibat perbuatan mereka itu dengan
“ainul yaqin”.
 Menurut paham Madzhab
Ahlussunnah wal Jama’ah tidak ada keraguan lagi bahwa di alam barzakh manusia
dihidupkan lagi sebagaimana mereka hidup di dunia untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan Munkar, Nakir dan menjalani apa-apa yang telah
dipersiapkan Allah baik berupa kemuliaam maupun siksa akibat perbuatan yang telah
dilakukan selama hidup di dunia.
 Bagi seorang muslim,
meyakini dan mengimani tentang adanya siksa di alam barzakh hukumnya wajib,
sebab dalam Al-Qur’an surah At-Takatsur kalimat “kallaa” diulang sebanyak 3
kali. Dalam ilmu tafsir, pengulangan tersebut dinamakan “wa’ad ba’da wa’id”
(ancaman sesudah ancaman).
 Menurut Mujahid,
pengulangan tersebut mengandung arti, “tak-kid dan taghlid” (penguatan dan
penebalan). Hal ini disebutkan pada pendapat “Al-Farro’” yang mendasarkan pada
kata-kata Ibnu Abbas yang berkata: Firman Allah, “Janganlah begitu, kelak kamu
akan mengetahui” apa yang turun pada kalian tentang siksa di alam qubur.
“kemudian janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui” di saat hari
kebangkitan tentang apa yang Allah janjikan kepada kalian dengan siksa tersebut
adalah benar”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *