Berhenti Berkreativitas demi pekerjaan ?

            Berhenti Berkreativitas demi pekerjaan ?   Aku lahir di Pontianak 18 November 1983 atau lebih tepatnya 34 tahun yang lalu, masa kecilku dihabiskan dengan permainan video games dan terkadang aku juga sering diajak nonton oleh keluargaku. Berkreativitas

Perlu diingat bahwasanya saat itu di kotaku Pontianak terdapat banyak sekali bioskop 21 yang sebenarnya mungkin tak memiliki kaitan erat dengan XXI Cineplex. Sebab sejatinya XXI Cineplex mulai memiliki jaringan secara resmi di Kalimantan Barat sejak tahun 2005, tepatnya di gedung A Yani Mega Mall Pontianak.

Setiap kali aku menonton sebuah film di bioskop atau bermain sebuah video games di NES –Nintendo Entertainment System—atau lebih dikenal dengan nama FAMICOM. Aku selalu berhalusinasi. Dan halusinasi inilah yang membawaku menulis atau pun berkreativitas mencoba menemukan hal-hal yang baru.

Berkreativitas

Sebagian orang beranggapan bahwasanya orang yang kreatif memiliki kelainan mental, anggaplah seperti Thomas Alfa Edison atau Stephen Hawking.  Sehingga pada umumnya manusia lebih bermain di jalur aman yaitu mencari uang, menikah dan tidak berfikir apapun sehingga mereka menguburkan dalam-dalam bakat kreatifitas mereka.

Bagiku hal ini sangatlah lucu, mengapa bakat yang sudah diberikan oleh Tuhan tidak mereka syukuri sehingga mereka lebih memilih bermain di zona aman ?  Entah apa jadinya suatu dunia jika orang kreatif seperti Edison atau Hawking bahkan Einstein maupun ilmuwan Islam seperti Al-Jabar tidak pernah hadir di dunia ? Mungkin kita akan tetap berada di zaman kebodohan, sehingga kita harus berkreativitas

Zaman dimana teknologi adalah angan-angan belaka, zaman dimana teknologi merupakan khayalan semata.

Berkreativitas

Terapi menulis, bermain sulap dan membuat website maupun aplikasi. Jika ditarik sebuah benang merah diantara ketiganya, pernahkah kita menemukan relasi diantaranya ?

Tidak ada. Jika kita berfikir dengan menggunakan otak kiri, namun ketika kita berfikir dengan menggunakan sebuah garis imajiner atau ilusi maka kita akan mendapatkan sebuah kesimpulan yaitu Kreatifitas.

Ya, ketiganya pernah kulakukan bahkan dua diantaranya masih aktif kulakukan hingga saat ini yaitu blogging, membuat website dan jika nanti aku memiliki laptop yang baru maka, tak ada salahnya aku tetap mempelajari bahasa pemrograman apapun.

Disamping itu aku juga masih menerapkan terapi menulis, dimana aku bisa mengeluarkan apapun yang ingin kutulis apapun yang ada di otakku.

Ibaratkan seorang manusia yang hendak buang kotoran atau buang hajat, jika setiap hajat itu masih terdapat di dalam perut maka racun dan berbagai macam penyakit tentu akan dihinggapi olehnya.

Begitu pula dengan diriku yang tak pernah berhenti untuk berkreatifitas. Kapan pun dimana pun setiap kreatifitas selalu menjadi bagian dalam hidupku.

***

            Dahulu aku pernah membuat film bersama teman-teman, film indie yang hanya tayang di youtube, namun bagiku hobi membuat film tak lagi kuteruskan karena biaya yang mahal serta pertaruhan yang cukup berat. Biarlah setiap naskah cerpen, novelku menjadi bagian dari isi sebuah film atau dengan kata lain karyaku di konversi kedalam bentuk film.

Sulap, memang aku tak lagi menekuni profesi ini, namun dari sini aku belajar bagaimana cara membahagiakan orang lain lewat permainan. Bagaimana caranya memberikan senyuman kepada orang lain lewat permainan yang menghibur dan menginspirasi.

Namun ada satu hal yang ingin kutegaskan bahwa aku takkan membiarkan daya kreatifitasku hilang karena sebuah pekerjaan.  Dan aku takkan pernah tahu apa yang akan terjadi pada diriku kelak. Berhenti Berkreatifitas

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × 1 =